Judulnya Menggampangkan

Gayanya mengingatkan gue banget kalo lagi ngantuk berat di balik meja kantor. Bedanya dia mah ada di belakang setir. Dan dari sekian puluh mungkin ratus, pengalaman berangkutan umum, gayanya mengemudi menyimpulkan satu kata: ngantuk. Posisi sudah di Kelapa Gading. Ya sutrahlah bentar lagi sampe.

Gue: "Pak, beloknya jangan di sini, tapi di yang satunya lagi aja ya."

Senyap.

Gue lagi: "Pak, beloknya di belokan satu lagi ya."

Supir: "Mau ke Meruya?"

Gue: "Hihihi, bapak ngantuk nih. Beloknya di belokan satu lagi."
Volume suara gue emang rada naik, karena takut keburu belok kiri dan akan runyam puter baliknya.

Supir: "Tak boleh kamu menggampangkan seperti itu!" dengan aksen sebelah Utara di pulau paling Barat Indonesia. Maaf, bukan maksud S**A, cuma mau menggambarkan suasana.

Gue dalem hati: "Gawat, si abang udah melek blas ini."

Gue di mulut: "Yaaa Pak. Becanda aja kok."

Supir: "Tak baik sikapmu seperti itu!"

Gue: "Sikap yang bagaimana ya, Pak?"

Supir: "Ya saya kan tanya baik-baik."

Gue: "Saya juga jawab baik-baik, beloknya di belokan satu lagi."

Supir: "Itu namanya menggampangkan orang!"

Gue: "Menggampangkan? Menggampangkan gimana?"

Supir: "Ya bilang ngantuk begitu! Terus bilang becanda lagi!"

Gue di mulut: "Oh nggak boleh becanda ya, Pak?"
Gue dalem hati: "Jadi seriously emang bapak ngantuk bener donk ya? Ngantuknya nggak becanda gitu."

Supir: "Tak baik memperlakukan orang seperti itu, De!"

Gue: "Waduh. Sadis juga ya."

Supir: "Lho kok sadis lagi?" Intonasi diperkuat.

Gue: "Iya, memperlakukan orang seperti itu. Sadis benerrr. Ck ck ck."

Senyap. Dan senyap. Dan senyap.

Supir: "Belok kiri di sini ya?" Intonasi datar nasional.

Gue: "Iya, betuuul sekali, Pak." Intonasi minor.

Laju kendaraan jadi mulus lurus. Baru agak terasa kalau lagi naik taksi. Sayang sudah sampai di tujuan.

Gue: "Pinggir kiri sini, Pak."

Supir: "Baik."

Karena bete terpendam, gue kasih dia recehan sepas-pasnya argo.

Supir: "Terima kasih ya."

No comments: