Are You A Tourist or A Traveller?

Quoted from The Rough Guide to First-Time Around the World by Doug Lansky on page 153:

Why on earth should you go out of your way to try some sport or activity you've never heard of and will probably never do again? Why bother with the slow, less comfortable modes of transport? Why go anywhere near a squat toilet, or, for that matter, a Vietnamese ear-cleaner armed with what seems to be shish-kebab skewers?

Because if you're not doing something now, you're doing something you've done before. If you're not taking local transport, you're taking Western-style transport. If you're not using the local language (or hand gestures and phrasebooks), you're probably speaking with professional guides and concierges. If you're not staying in places with local standards, you're staying in places with Western standards. If you're not eating local food, you're probably eating food you know from home. If you're not using the local toilets, you're using Western ones. The creature comforts (and language) of Western life are now available virtually everywhere, and if you don't go on a creature-comfort diet, you'll be getting a Disneyfied view of the place you're trying to see. It's often the inconvenient and uncomfortable elements that give travel its extra dimension, and separate the Sphinx in Las Vegas from the one in Egypt, the gondola ride in the Epcot Center from the one in Venice - and the tourists from the travellers.

Jangan Tanya Apakah Saya Seorang Backpacker

Hampir setiap kali saya habis pulang berjalan-jalan, ada yang bertanya, "Perginya backpacker-an ya?"

Saya selalu bingung menjawab pertanyaan ini. Apa sih definisi backpacker itu sebenarnya? Pernah saya layangkan pertanyaan ini kepada 2 milis komunitas tukang jalan. Tidak ada satupun feedback yang saya terima. Saya baca beberapa buku yang berkisah tentang pengalaman para backpacker. Saya semakin bingung.

Yang pasti, kalau berpergian ke luar negeri, saya tidak suka traveling dengan mengikuti sebuah tour dari Indonesia. Alasannya?
  1. Kesempatan untuk mengalami langsung kehidupan atau budaya penduduk setempat akan berkurang (banyak). Saya tidak akan mengalami misalnya, menyeberang pulau sekapal dengan turis asing lainnya. Saya tidak akan mengalami "susah"nya di negeri orang, karena semua sudah diatur oleh biro perjalanan. Saya memang tidak menjadi susah, tetapi saya juga tidak menjadi tahu "aslinya". Pulang-pulang yang saya tahu masih "katanya". I want firsthand experience.
  2. Itinerary tur-tur Indonesia, maaf kata, biasanya isinya makan, belanja, makan, belanja, makan, belanja, makan, makan. Bahkan tur yang diadakan sebuah lembaga sekolah fotografi ternama pun bisa seperti itu. Namanya sekolah fotografi, tetapi fotogarfi bukan prioritas.
Lalu apakah karena saya tidak ikut tur, maka saya bisa disebut seorang backpacker? Saya senang membuat itinerary. Membayangkan sesuatu, merancang, dan mewujudkannya itu mungkin memang talenta saya. Sedangkan dari buku-buku yang saya baca, tidak semua backpacker punya itinerary matang seperti saya sebelum berangkat ke suatu tempat.

Kalau mau punya itinerary matang seperti saya, waktu menjadi sangat penting. Sedangkan kalau demi mengejar budget harus pakai metode hitchhiking, itinerary bisa jadi berantakan apabila tidak mendapatkan tumpangan pada saat yang sudah dijadwalkan. Demikian juga apabila demi mengejar budget harus menginap di rumah orang, tentulah saya menjadi tidak bisa semau-mau saya kapan pergi dan kapan pulang.

Selain itu, sebagai seorang wanita, saya agak ngeri hitchhiking di negeri orang. Saya juga tidak begitu suka menginap di rumah orang, karena saya tidak mau jadi berhutang budi. Lebih baik saya berhutang uang ke hotel yang jelas berapa nominalnya daripada saya berhutang budi yang kata pepatah Cina dibawa sampai mati itu. Kalau saya hidup sampai umur 100 tahun, bisa numpuk tuh hutang budi saya. Sedangkan hutang budi lainnya sudah sangat banyak.

Saya pernah membaca sebuah buku seorang backpacker Indonesia yang pergi ke Cina. Dia berpergian pada saat Tahun Baru Cina. Dia tidak memesan tiket kereta di muka. Alhasil dia terpaksa menginap di stasiun satu malam dan 1 hari itu jadi terbuang. Habis itu dia membanggakan bahwa bisa keliling Cina hanya dengan 2 jutaan rupiah untuk 16 hari. Ini sama sekali bukan gaya saya. Saya bisa nangis bombay kalau 1 hari terbuang percuma begitu. Waktu itu tidak pernah bisa dibayar dengan uang. Lagipula, ada-ada saja cari tiket kereta di hari H pada saat Tahun Baru Cina seperti itu. Apa masih kurang warga keturunan Cina di Indonesia sampai tidak mengantisipasi budaya orang Cina menjelang tahun baru itu bagaimana? Apa tidak bisa membayangkan membeli tiket kereta di hari H pada Hari Raya Lebaran di Indonesia? Bayangkanlah seperti apa stasiun keretanya. Di Cina pada saat Tahun Baru Cina pun akan sama. Koq yang seperti itu tidak diperhitungkan?

Dengan prinsip menghemat waktu ini, biaya perjalanan saya bisa menjadi tidak hemat apabila dibandingkan dengan mereka yang memproklamirkan dirinya seorang backpacker. Contohnya, saya lebih memilih sewa mobil daripada naik ojek. Bukan karena saya haram naik motor. Kalau naik motor, barang bawaan menjadi sangat terbatas. Saya selalu berusaha travel light se-light mungkin. Namun perlengkapan kamera saya sendiri sudah satu ransel plus tripod. Satu tas lagi untuk pakaian. Itupun masih untung saya bukan tukang belanja. Kalau tas pakaian ditinggal di penginapan saat saya berkeliling, berarti akan ada waktu yang diperlukan untuk kembali ke penginapan mengambil tas. Sedangkan jika sewa mobil, tidak perlu kembali ke penginapan jika itu hanya untuk mengambil tas. Bisa langsung lanjut ke tujuan berikut. Dengan demikian, dengan waktu yang singkat, akan lebih banyak tempat yang bisa saya singgahi.

Keuntungan lain dengan sewa mobil, apabila hujan, bisa tetap jalan terus. Siapa tahu di tempat tujuan nanti cuacanya cerah. Kalau naik ojek, jika di tengah jalan hujan deras, pasti saya akan khawatir bukan main. Bukan atas diri saya, tetapi atas kamera dan saudara-saudaranya. Terpaksa harus berhenti dulu. Lagi-lagi waktu terbuang. Saya tidak suka memboroskan uang, tetapi saya lebih benci memboroskan waktu.

Nah, jadi apakah saya seorang backpacker?

Ketika saya pergi ke Vietnam untuk kedua kalinya, pada hari pertama saya menulis status di FB begini: Arrived in a 80% backpacker style.

Teman seperjalanan saya merespon. "80%? Perasaan udah 120%. Punggung gue sampe sekarang belum ilang pegelnya."

Itu karena ternyata hotel bintang satu kami tidak punya elevator, sehingga kami harus membawa barang bawaan kami dengan menaiki tangga sampai lantai 4. Lha dulu saya sudah pernah mesti menggendong ransel secara manual sampai ke lantai 8. Dan saya masih berpikir bahwa saya sedang menikmati hidup yang agak mewah karena satu kamar hanya untuk 2 orang, tempat tidur ala spring bed, ada AC, dan di dalamnya ada kamar mandi dengan shower yang ber-air-panas 24 jam, yang semuanya sudah termasuk tarif hotel. Rasanya gaya tidur seperti ini tidak ada di dalam kisah-kisah para backpacker di buku-buku maupun di blog-blog.

Pernah seorang teman berkomentar di dinding FB saya: Gaya loe lebih mewah daripada gaya gue.

Nah, jadi apakah saya seorang backpacker?

Shock culture pertama saya di Cina adalah ketika bis kami berhenti untuk memberi kesempatan pada penumpangnya untuk buang air. Beberapa jam sesudah itu bis berhenti lagi untuk memberi kesempatan makan. Saya sama sekali tidak bisa makan. Apa yang telah saya lihat beberapa jam yang lalu itu mengganggu penglihatan saya terhadap mangkuk-mangkuk mie di depan mata saya.

Sementara menunggu bis bergerak lanjut ke Kunming, saya copot label backpacker itu dan buang di bawah kolong meja bersama sisa-sisa makanan yang semakin menggunung itu. Jangan tanya apakah saya seorang backpacker.

S and V, Me and Vietnam: If You Don't Dare to Go Solo

S and V, Me and Vietnam: If You Don't Dare to Go Solo: "I used to think that as long as I and my travelmate have the same interest, we will all be happy. It turned out that the same interest does..."

Backpacker: Apa Benar Hemat?

"Coba baca buku ini," demikian saran seorang pimpinan di kantor saya. Buku itu adalah kisah perjalanan ke Vietnam dalam tempo 15 hari dengan biaya 2 jutaan. Karena saya sudah beberapa kali ke Vietnam, saya jadi penasaran. Koq bisa?

Ternyata "2 jutaan" itu tidak termasuk tiket pesawat. Oke, itu sudah menjawb setengah dari rasa penasaran saya. Dari situ saya mulai membaca buku-buku tentang pengalaman backpacker lainnya. Ada lagi yang membanggakan bisa keliling Eropa dengan biaya 500 ribuan rupiah per bulan. Rasa penasaran saya yang sudah terobati lima puluh persen jadi mengembang lagi. Koq bisa?

Ternyata bukan saja tiket pesawatnya tidak dihitung, akomodasinya nebeng di rumah sesama backpacker, sehingga dalam daftar pengeluaran tertera "nol" untuk akomodasi. Demikian pula untuk biaya transportasi. Karena memakai metode hitching, biaya transportasinya "nol".

Rupanya taktik dagang juga berlaku untuk menjual tulisan. Saya jadi terpancing untuk membeli buku-buku tersebut dan membacanya. Bukan untuk mengetahui bagaimana keadaan negara yang dituju, melainkan lebih untuk menjawab pertanyaan "koq bisa?".

Kebanyakan backpacker itu mendapatkan tempat berteduh gratis itu melalui jejaring backpacker internasional. Jika menjadi anggotanya, pada saat ada yang berkunjung ke negara kita, maka kitalah yang menjadi tuan rumah. Salah satu penulis mengatakan bahwa tidak harus kita menerima tamu backpacker di rumah kita.

Memang tidak harus sih. Tetapi, saya bertanya-tanya di dalam hati. Seandainya saya numpang berteduh di rumah si A pada saat berkunjung ke negaranya, apakah mungkin saya sampai hati untuk menolaknya ketika si A itu mohon berteduh di rumah saya? Apabila si A berteduh di rumah saya, apakah mungkin saya sampai hati tidak menyediakan makanan sama sekali? Secara Jakarta semakin panas oleh matahari maupun penduduk yang semakin berlimpah, apakah saya akan sampai hati melarangnya menghidupkan AC yang barangkali bisa terus menerus sampai pol, apabila si A itu berasal dari negara kutub. Lalu apakah saya akan sampai hati tidak mengajak si A berjalan-jalan?

Sementara saya membayangkan hari-hari saya bersama si A, otak saya mulai berhitung. Berapa yang harus saya sediakan untuk membeli makanan? Meskipun kadang saya makan malam atau sarapan hanya dengan sepotong roti atau pop mie, saya tidak mungkin melakukan itu jika si A bertamu di rumah saya.

Berapa harikah si A tinggal di rumah saya? Pada akhir bulan berapa besar tagihan listrik saya akan bertambah untuk pemakaian AC dan water heater?

Saya tidak punya kendaraan. Pada umumnya saya naik angkot. Masakan si A akan saya ajak jalan-jalan naik angkot? Kalau si A kulitnya kuning seperti saya sih mending. Kalau tinggi bule blas gitu masa mau dimasukkan di angkot? Indonesia gitu lho. Jadi naik taksi? Nah, kalau naik taksi, apa si A yang bayar? Atau saya harus beli mobil dulu sebelum bisa backpackeran keliling dunia?

Kalau saya mengajak si A berjalan-jalan, kemungkinan besar akan saya ajak ke tempat yang sudah pernah saya kunjungi, biar nggak nyasar. Nah, siapa yang akan menanggung biayanya?

Memang pengalaman yang didapatkan dengan kedatangan si A itu tentu merupakan sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang, Tetapi, kenyataan bahwa dengan kedatangan si A ada pengeluaran ekstra yang kemungkinan besar tidak kecil itu tidak bisa dipungkiri. Pada akhirnya, seperti kata pepatah Cina, hutang budi dibawa sampai mati. Artinya, dengan pernahnya saya menginap di rumah si A ataupun backpacker lainnya, saya berhutang budi; dan hutang itu harus saya bawa sampai mati yang dengan kata lain tidak akan ada lunasnya.

Setelah otak saya berhitung dengan berakhir pada pepatah Cina, saya memandang berkeliling rumah saya yang 34/60. Beberapa atap bocor belum sempat saya perbaiki. Pintu kamar mandi yang cuma satu-satunya sudah hancur sebagian. Alasan belum memperbaikinya adalah ketiadaan dana dan juga waktu. Lha habis setiap kali libur kerjanya jalan-jalan, kapan ada waktunya? Demikian juga uangnya habis dipakai jalan-jalan terus. Lagipula rumah 34/60 yang dicapai dengan keluar masuk gang ini apakah pantas untuk disinggahi si A? Masakan saya harus pindah rumah dulu supaya siap menjadi anggota jejaring backpacker?

Saya percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis. Semua itu ada harganya. For everything there is a price.

The Intro

One day, a Japanese expat in my office was miserable because his computer's internet connection got into trouble. An IT technician was called. As the menus and everything on his computer were in Japanese, I helped the technician to find the menus, tabs, icons, etc., he needed to solve the problem. Done.

Only a few minutes later this Japanese expat called me again. He sounded upset. I checked his computer myself. Clicked "yahoo.com". No problem.

"No, no! My nootsu ノーツstill doesn't appear!"

"What's nootsu?" I asked.

"Nootsu ! Nootsu ! You don't know nootsu ? Oh, nootsu !"

I showed him the Notepad from Window's accessories because the word nootsu  itself actually means "notes". I thought that was what he meant.

"There, nothing's wrong," I said.

"Oh, no! I mean, nootsu !" He already turned from frantic to furious.

Later on I learned that nootsu is the name for The Company's webmail or sort of. His problem was that he couldn't access to his email. Further later on I learned also that many expats in my office doesn't care whether Yahoo, Google, etc., is working or not. In fact when they complain that their internet connection is not working, they mean that their nootsu doesn't appear properly on their screen.