Indovision Curhat Nih

Memang sudah tabiat manusia rupanya, lebih mudah mengeluh daripada bersyukur, lebih mudah protes daripada memuji. Lihat saja blogku ini. Isi posting-postingnya ngomelll terusss. Dari pejabat sampai pemuka agama kuprotes. Dari tukang air sampai tukang telepon kuomeli. Indovision pun tak luput merasakannya, hingga terbitlah blognya seperti di bawah ini.
Sumber: http://www.indovision.me/2013/04/keluhan-pelanggan-lebih-sering-muncul.html

Copas alinea pertama:
Dalam kasus dan bidang jasa apapun, komplain atau keluhan oleh pelanggan lebih sering muncul dibandingkan kepuasan. Hal ini juga terjadi pada setiap pelanggan Indovision. Tulisan dengan nada kecewa lebih banyak diungkap, namun jika sudah nyaman kita diam saja.

Indovision tahu betul apabila kita coba ketik "keluhan Indovision" pada Google, maka sederet cerita akan muncul sampai diklik halaman selanjutnya, next, next, next... di halaman 10 pun masih ada tulisan berisi keluhan terhadap Indovision. Dahsyat.

Jadi kali ini Indovision rupanya merasa perlu mengomeli (calon) pelanggannya. Aku agak bingung sih, kenapa yang disebut hanya "calon" saja? Pakai diberi warna merah pula font-nya. Maksud loh?

Membaca kata "berusaha lebih keras" dan "asal sabar" di atas, aku juga bingung. Yang customer siapa ya? Bahasa pedasnya, yang bayar siapa? Sudah bayar, mengalami masalah, masih disuruh berusaha lebih keras dan sabar. Gelo.

Pengalaman menghubungi call center Indovision? Hmmm, asal Anda sabar, aku akan berusaha lebih keras membuat posting tersendiri tentang pengalamanku itu. Panjang ceritanya. Sabar ya. 

Lagipula, kalau kita baca kisah-kisah di media massa dan internet itu, hampir semua sudah sebelumnya menghubungi call center. Justru karena tidak juga mendapatkan penyelesaian itulah maka mereka menulis di publik. Hush! Indovision sedang curhat nih. Yuk, kita dengarkan lagi.

"... protes karena teknisi telat datang beberapa jam dari janji untuk pemasangan alat ..."
Oh, rupanya Indovision mengakui bahwa teknisinya tidak menghargai waktu pelanggan dengan datang / tidak datang semaunya sendiri. Indovision yang malang pun berandai-andai. "Andai bisa mengerti..." tulisnya. Macam lagu cinta saja. Lanjut ke halaman 2:

"... butuh proses dan waktu."
Duh, semakin bingung aku. Proses dan waktu apa ya? Proses persiapan alat? Lha, "janji" di atas itu janjinya siapa ya? Apakah Indovision ketika mengucapkan janji datang jam sekian itu asal sebut saja tanpa mengkalkulasikan berapa lama waktu yang diperlukan untuk memproses? Bagaimana kalau pelanggan terlambat membayar tagihan beberapa minggu dari tanggal jatuh tempo? Apakah Indovision akan "mengerti"? Katakan saja, cari duit itu kan butuh proses dan waktu. Andai kau mengerti... begitu.

"Untuk calon pelanggan luar kota lebih parah lagi."
Gile! Parah, coy, katanya! Kasihan ya Indovision, pelanggannya parah. Eh, Indovision bukan nama rumah sakit kan ya?

"... keras kepala yang luar biasa."
Gile, bentoel!! Pelanggannya yang parah itu rupanya menderita keras kepala yang luar biasa, coy!

Profesionalisme Indovision tergambar sudah. Sampai setinggi apa bisa kita gantungkan ekspektasi kita pada Indvision, juga jelas. Demikian pula kalau pernyataan resmi di publiknya seperti ini, kita bisa bayangkan watak teknisinya bagaimana.

Dul Dul Dul Amburadul

dul dul dul amburadul
dul dul dul dicari-cari dulu
dul dul dul akhirnya ketemu
ini namanya amburadul, dudul!

dul dul dul amburadul
dul dul dul untung ya bisa nemu
dul dul dul kalau nggak kan malu
itu namanya gengsi, dudul!

dul dul dul amburadul
2 oktober 2013